Jumat, 29 Maret 2013

"Nikmatnya Pacaran Setelah Menikah"

 
         Pacaran, kata yang sangat familiar di kalangan muda-mudi zaman sekarang termasuk di Indonesia. Entah dari mana asal mula kata itu yang pasti di kalangan remaja sekarang ini perilaku pacaran sudah sangat membudaya. Sebelumnya batasan pacaran yang dibicarakan di sini adalah sebuah hubungan khusus yang dijalin antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Perilaku yang dianggap sebagai proses pengenalan terhadap pasangan lawan jenis sudah seperti keharusan di kala beranjak dewasa. Anggapan itu cukup mengotori masa pubertas menuju kedewasaan yang seharusnya bisa diisi dengan hal-hal yang lebih baik.
         Dalam Islam tidak dikenal istilah ataupun proses pacaran sebagai sebuah proses pengenalan atau apapun, sebaliknya pacaran adalah sebuah perbuatan yang dilarang dan termasuk zina. Allah berfirman, “Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah perbuatan keji. Dan jalan yang buruk”. Akan tetapi di Indonesia yang penduduk Islamnya adalah terbesar di dunia pacaran sangat digandrungi dan diminati oleh kalangan remajanya. Sungguh sebuah ironi. Hal ini menunjukkan bahwa besarnya kuantitas remaja Islam yang ada kurang diimbangi kualitas keislaman yang cukup. Buku yang akan kita bahas ini adalah salah satu bentuk kepedulian penulis terhadap keadaan keislaman yang cukup buruk ditandai dengan maraknya pacaran di antara kaum muda Indonesia.
Adapun bab yang dibahas di buku ini berjumlah 9 bab dengan urutan yang cukup sistematis membawa pembaca ke pemahaman yang lebih baik. Pada dua bab awal yakni ‘Saat Dirimu Hadir” dan “Jujurlah padaku ini cinta atau nafsu?” membahas tentang awal mula bagaimana seseorang bisa terjatuh dalam jurang pacaran. Sebagaimana kita tahu masa-masa remaja atau pubertas adalah masa di mana seseorang terlalu banyak ingin tahu dan sangat labil keadaan psikologisnya. Di masa seperti ini para remaja sangat mudah terpengaruh arus pergaulan lingkungan sekitarnya. Ketika ditempat tinggalnya, lingkungan sekolah, rumah dll dipenuhi contoh-contoh kurang baik seperti pacaran maka akan sangat berpengaruh terhadap pemahaman terhadap pacaran itu sendiri. Lingkungan membuat seolah pacaran adalah hal wajar sehingga tidak apa untuk dijalani. Untuk itu di masa seperti ini seorang remaja perlu contoh yang baik yang bisa memberikan pandangan yang benar bukan seolah olah benar atau “dibenarkan”.
Pacaran yang sekarang marak dijalani remaja sering dibenarkan dengan alasan Cinta yang selanjutnya dikhususkan lagi menjadi suka sama suka. Alasan cinta sebagai awal dari pacaran perlu untuk dikonfirmasi lagi, apakah benar-benar cinta atau hanya luapan nafsu semata. Kata cinta terlalu suci untuk dikotori dengan proses seperti pacaran yang teknisnya hanya menunjukkan luapan nafsu syahwat masing-masing individu. Cinta yang seharusnya adalah cinta kepada Allah swt. Cinta datang seiring datangnya sebab. Ketika sebab itu hilang maka sedikit demi sedikit akan hilang. Dan ketika sebab cinta kita adalah hal yang abadi yaitu Allah maka selamanya cinta kita akan selalu terjaga. Selain itu, cinta kepada Allah justru akan mengajak kita kearah kebaikan.
Dalam menjalani pacaran biasanya banyak ritual yang dijalani mulai dari pegangan tangan hingga terkadang menjerumus pada hal-hal yang bisa dikatakan “berlebihan”. Tidak sedikit kasus-kasus asusila dan hamil di luar nikah bermula dari status pacaran yang ada. Hal-hal tersebut menunjukkan betapa besarnya kemungkinan seseorang terjerumus ke dalam dosa besar melalui jalan pacaran. Seperti salah satu ayat yang dijelaskan sebelumnya bahwa Allah bukan hanya memerintahkan kita untuk tidak berzina bahkan mendekatinya pun kita dilarang. Dalam Islam bukan hanya pegangan tangan ataupun yang lebih dari itu yang dilarang bahkan kita diperintahkan untuk menundukkan pandangan kita kepada lawan jenis. Dalam An Nur 30 Allah swt berfirman “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya dan hendaklah mereka jaga kemaluannya”….
Sudah banyak bukti-bukti yang nyata sebagai efek buruk dari pacaran yang bisa dilihat tapi masih saja banyak yang merasa berani dan “sok” dewasa dengan menjalani pacaran. Kita pasti sering mendengar berbagai macam pembelaan dari orang-orang yang menjalani pacaran. Mereka mungkin berkata bahwa ini adalah sebagai motivasi, penyemangat dll padahal sudah sangat jelas yang hanya patut dijadikan penyemangat hanya Allah swt.
Islam sebenarnya telah mengatur dengan sangat baik seperti apa seharusnya pergaulan antara seorang laki-laki dan perempuan mulai dari bagaimana bergaul sehari-hari hingga proses dalam menuju sebuah hubungan. Rasulullah saw sebagai panutan telah menunjukkan cara-cara interaksi dengan sesama lawan jenis hingga proses menuju sebuah pernikahan dengan menjaga kesucian makna kata “cinta”. Beberapa bagian di akhir buku ini cukup menjelaskan beberapa kisah Rasulullah saw yang bisa diambil pelajaran untuk diterapkan di kehidupan sehari hari.
Buku ini cukup memberi penjelasan dan penerangan ke arah yang baik bagi para pembacanya. Tidak hanya bagi mereka yang sudah pacaran, tapi bagi setiap orang khususnya remaja yang sangat rentan terjerumus pada banyak hal di masa pubertasnya.
“Inilah puasa panjang syahwatku, kekuatan ada pada menahan dan rasa nikmat itu terasa, di waktu buka yang penuh kejutan”. Berikut adalah salah satu kalimat yang terdapat di buku karya Salim A. Fillah ini yang cukup mewakili bagaimana kita seharusnya menahan hingga waktunya datang. Beberapa nikmat yang disediakan Allah sudah ditentukan waktunya untuk dinikmati, jangan sampai kita karena nafsu yang menggebu kehilangan beberapa kenikmatan ketika waktunya datang. Maksudnya di sini adalah biar kan rasa penasaran kita terhadap pacaran kita nikmati setelah perkara pernikahan yang sah, janganlah kita terburu-buru menikmatinya dengan beberapa proses yang salah seperti pacaran.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/03/29745/nikmatnya-pacaran-setelah-pernikahan/#ixzz2OvYZKFUi 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar